𝐵𝒶𝒹𝒶𝒾, 𝐿𝓊𝓀𝒶, 𝒹𝒶𝓃 𝒮𝑒𝓈𝑒𝑜𝓇𝒶𝓃𝑔 𝓎𝒶𝓃𝑔 𝑀𝑒𝓃𝑒𝓂𝒶𝓃𝒾 ◡̈
Badai, Luka, dan Seseorang yang Menemani
Tahun lalu seperti badai yang tak henti-hentinya mengguncang hidupku. Ada masa ketika aku merasa terseret arus, jatuh berkali-kali, dan kesulitan untuk bangkit. Malam-malam terasa panjang dan sunyi, hati dipenuhi pertanyaan yang tak kunjung menemukan jawaban. Semua rasa sakit dan kecewa itu kadang membuatku ingin menyerah. Aku sering merasa keberadaanku dianggap biasa saja, mudah diabaikan, seolah hanya dicari ketika tak ada pilihan lain.
Tubuhku pun sering sakit, lelah yang kurasakan bukan sekadar fisik, melainkan kelelahan yang seakan ikut menanggung beban hatiku. Dan hatiku pernah ternoda oleh luka yang ditinggalkan seseorang, kata-kata dan perbuatan yang menoreh diam dalam dadaku, seperti hujan deras yang tak kunjung reda, membasahi setiap harapan. Disaat yang sama, perkuliahan yang melelahkan dan tekanan skripsi yang menumpuk membuatku merasa terhimpit, seakan setiap langkah maju selalu diiringi beban yang tak terlihat. Perasaan diremehkan itu perlahan mengikis kepercayaan diriku, membuatku bertanya-tanya apakah aku benar-benar berarti. Namun aku tetap berjalan, meski perlahan dan rapuh, karena aku tahu menyerah bukan pilihan.
Di tengah semua itu, aku bertemu seseorang yang perlahan mengubah cara pandangku terhadap diri sendiri. Tanpa tergesa, tanpa banyak kata, kehadirannya membuatku mulai percaya bahwa mungkin aku bisa lebih dari sekadar bertahan. Dia bukan orang yang suka menonjolkan diri, tetapi kebaikannya terasa nyata dalam hal-hal kecil: cara dia mendengarkan tanpa menghakimi, mengingat hal-hal yang bahkan aku sendiri lupa, dan hadir ketika aku lelah atau meragukan diriku sendiri. Bahkan, dia sering membantuku menghadapi skripsi yang menumpuk dan melelahkan.
Dia tak pernah memaksaku untuk berubah. Dia hanya membuatku merasa bahwa aku cukup, apa adanya. Dengan kesabaran dan ketenangannya, dia menanamkan rasa aman dalam hatiku, seakan berkata tanpa kata, “Kamu tidak sendirian.”
Setiap luka mengajarkanku hal baru tentang diriku sendiri. Aku belajar bahwa kuat bukan berarti tidak menangis, melainkan tetap berdiri setelah air mata mengering. Dari kesedihan lahirlah keberanian kecil yang tersembunyi, keberanian yang membuatku terus melangkah meski dunia terasa berat. Bahkan ketika harapan tampak jauh, kehadirannya menjadi cahaya kecil yang menuntunku untuk tidak berhenti. Dia mengajarkanku tentang kesabaran, tentang menghargai diri sendiri, dan tentang kepercayaan yang dibangun perlahan. Dia menunjukkan bahwa kebaikan bisa sangat sederhana, namun berdampak besar, cukup dengan mendengar, cukup dengan hadir, cukup dengan sabar.
Kini tahun baru hadir, membawa udara segar meski bukan tanpa tantangan. Aku masih membawa bekas luka, tubuh yang sering sakit, dan kelelahan dari perkuliahan serta skripsi yang belum usai. Namun aku juga membawa keteguhan yang lahir dari semua yang telah kulewati. Aku masih bertahan, masih bernapas, dan masih percaya bahwa meski perjalanan ini berat, aku mampu melangkah. Sedikit demi sedikit, dengan hati yang lebih kuat, dan dengan seseorang yang menemani tanpa memaksa, aku akan terus berjalan.
Meski dunia kadang tidak ramah, aku tidak menyerah.

Komentar
Posting Komentar